Intip keseruan Daurah Keluarga Sakinah PKS Kulon Progo: Gen Z blak-blakan soal UPA. Seperti apa?
KULON PROGO—Pernah nggak sih kamu diajak ikut kegiatan keagamaan atau pengajian, tapi dalam hati langsung nanya spontan: "Nek melu (ngaji), aku entuk apa?" yang artinya: Kalau saya ikut (pengajian), saya dapat apa?
Pertanyaan jujur khas Gen Z ini ternyata sempat bikin riuh suasana Daurah (Pelatihan) Keluarga Sakinah yang dikemas dalam bentuk Talkshow bertajuk "Sudut Romansa Keluarga Pejuang" yang digelar oleh Bipeka (Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga) PKS Kulon Progo bersama Bidang PAA di Gedung Pertemuan JMS, Ahad 28 Juni 2026 lalu.
Acara ini benar-benar banjir insight baru. Narasumbernya nggak main-main, mulai dari tokoh senior Bu Nunung, putra sulungnya Bang Zia, hingga perwakilan Gen Z Kulon Progo yang lagi hits, Kak Silham dan Kak Zahra. Isinya? "Daging" semua alias penuh ilmu mahal yang dikemas santai!
Sebagai pembicara pertama, Bu Nunung mengingatkan kalau kunci utama seorang ibu dalam mendidik anak terletak pada ketakwaannya kepada Allah dan kekuatan doa. Beliau memberikan self-reminder menohok buat para orang tua: bukan sekolah IT mentereng yang menjamin keshalihan anak, melainkan didikan orang tuanya sendiri. Singkatnya, bagaimana perkembangan anak adalah cerminan dari "raport" orang tua mereka.
Nah, menyikapi Gen Z, Bu Nunung memberikan pesan khusus terkait Unit Pembinaan Anggota (UPA), sebutan untuk agenda pengajian dan pembinaan rutin di PKS: bikin UPA jadi kegiatan yang menyenangkan! Zaman sudah berubah, jadi metode pembinaan pun harus adaptif. UPA sekarang nggak melulu harus duduk melingkar formal di dalam rumah. Sesekali, ajak mereka UPA di kafe, sambil nonton bareng (nobar), atau bahkan main bareng (mabar) game online. Orang tua juga disarankan berhenti membandingkan zaman dengan kalimat, "Kalau dulu Ibu begini, kalau dulu begitu..."
Setuju dengan sang Ummi, Bang Zia ikut membagikan pengalamannya dalam membina anak muda. Kuncinya adalah menyelaraskan metode pembinaan dengan hobi dan kecenderungan generasi sekarang, tentunya dengan tetap mematuhi batas-batas yang sudah disepakati bersama.
Keseruan makin memuncak saat sesi curhat dari perwakilan Gen Z. Kak Silham, putra dari Bu Maryanti, dengan sangat menggelitik mengakui cerita awalnya ikut mengaji. "Saya ngaji karena disuruh Ummi. Ikut kegiatan-kegiatan juga disuruh Ummi. Daripada diamuk, ya sudah ikut saja," akunya disambut tawa peserta. Dia juga menceritakan kalau pertanyaan pertama teman-temannya saat diajak mengaji adalah, "Nek melu UPA, aku entuk apa?"
Berbeda cerita dengan Kak Zahra, putri dari Bu Iin Indriyani. Karena sejak kecil sudah terbiasa hidup di lingkungan islami, mengaji kini sudah jadi kebutuhan. "Akhirnya saya merasa ada yang kurang kalau tidak ikut ngaji," ungkapnya. Sambil bercanda, ia juga menambahkan kriteria kegiatan impian versinya, "Kalau bagi kami, UPA yang menyenangkan itu yang pesertanya boleh ber-makeup."
Di penghujung acara, Bu Nunung menutup daurah dengan sebuah pesan mendalam yang menyentuh hati. Beliau mengingatkan bahwa jalan perjuangan ini memang tidak mengenal kata istirahat dan menuntut totalitas.
"Dakwah itu tidak ada istirahatnya. Dakwah itu mengambil semua dari kita. Tapi yakinlah, Allah akan memberikan rezeki kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya. Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang hidupnya digunakan untuk mengurusi dakwah," pungkasnya penuh khidmat.
Narasumber: Ery Krisdwiyanti
Foto: Komdigi PKS Kulon Progo


.jpeg)