Banyak lulusan SMA di DIY gagal tes fisik kerja ke Jepang akibat 'mager'. DPRD DIY dorong revitalisasi UKS untuk tingkatkan kebugaran pelajar.
YOGYAKARTA – Fenomena 'mager' (malas gerak) di kalangan pelajar kini menunjukkan dampak yang mengkhawatirkan. Banyak lulusan SMA/SMK di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilaporkan gagal dalam tes kesamaptaan (tes fisik) saat melamar program magang kerja ke Jepang.
Fakta ini diungkap oleh Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Muhammad Syafi'i, berdasarkan temuannya di salah satu Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
"Di sebuah LPK yang memberangkatkan magang ke Jepang, dari puluhan peserta, tidak lebih dari lima yang lolos tes fisik. Ini artinya, kebugaran fisik anak-anak kita tidak prima," ungkapnya dalam Forum Group Discussion (FGD) Peningkatan Kapasitas UKS/M yang digelar Biro Kesra Pemda DIY.
Temuan ini sejalan dengan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang menunjukkan rendahnya tingkat aktivitas fisik pada anak-anak usia sekolah di Indonesia.
Menanggapi masalah ini, Muhammad Syafi'i mendukung penuh Instruksi Gubernur (Ingub) DIY mengenai peningkatan fungsi Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M). Menurutnya, UKS/M harus direvitalisasi agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat penanganan kecelakaan ringan.
"UKS/M jangan hanya menjadi tempat untuk siswa yang pingsan saat upacara. Seharusnya, UKS bisa menjadi pusat untuk membangun kesadaran gaya hidup sehat di kalangan siswa," tegasnya.
Ia menambahkan, lembaga ini bisa menjadi wadah kolaborasi antara Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, sekolah, dan orang tua untuk bersama-sama menjaga kebugaran siswa.
Syafi'i menilai, isu kebugaran generasi muda ini sangat krusial, terutama dalam menyambut bonus demografi yang digadang-gadang pemerintah.
"Sebagai perwakilan masyarakat, DPRD tentu mendukung program yang berdampak positif bagi warga. Kebugaran anak-anak ini menjadi sangat penting untuk menyiapkan generasi unggul di masa depan," pungkasnya.
