Pelatihan siaga bencana bukan cuma soal selamat dari reruntuhan, tapi juga kunci mencegah wabah penyakit. Kenali wilayahmu dan asah skill-mu sekarang!
YOGYAKARTA – Saat bencana terjadi, masalah tidak berhenti saat guncangan atau banjir surut. Justru, ada bahaya lain yang seringkali mengintai para penyintas, yaitu wabah penyakit yang bisa menyebar dengan cepat.
Untuk mencegah skenario buruk ini, pelatihan siaga bencana menjadi metode yang paling efektif. Pelatihan ini bukan sekadar simulasi, melainkan investasi keselamatan sebelum bencana benar-benar datang.
"Pelatihan adalah bagian dari mitigasi atau langkah pencegahan sebelum bencana terjadi. Ini sangat krusial untuk mengurangi berbagai risiko, termasuk dampak susulan seperti krisis kesehatan," ujar Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Muhammad Syafi'i, dalam sosialisasi Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana di Kantor Kelurahan Rejowinangun, Senin (21/7/2025).
Menurut Syafi'i, dengan pelatihan, masyarakat jadi lebih paham dan siap mental. Pemahaman yang baik inilah yang akan mengurangi kepanikan dan meminimalkan dampak buruk bencana.
Hal senada diungkapkan Muhammad Zaki dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Ia menekankan pentingnya mengenali lingkungan sekitar sebagai bagian dari persiapan.
"Dengan memahami kondisi wilayah sendiri, seperti jalur evakuasi atau titik rawan, kita bisa lebih mudah menangani situasi saat bencana terjadi," tandasnya.
Sementara itu, Suparlan dari FPRB DIY menambahkan bahwa pelatihan berfungsi sebagai "penyegaran" skill. Dalam sosialisasi di Kelurahan Pandeyan, Umbulharjo, Selasa (22/7/2025), ia menyebut bahwa dengan latihan rutin, masyarakat dan relawan akan semakin tanggap dan tidak kaku saat menghadapi situasi darurat.


