Filosofi 'Satriya' didorong jadi modal karakter kuat bagi warga Yogyakarta. Mengenal watak ksatria untuk menghadapi tantangan zaman.
YOGYAKARTA – Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didorong untuk menjadikan filosofi "Satriya" sebagai modal karakter yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Watak ksatria ini diyakini mampu membentuk masyarakat yang unggul dan harmonis.
Hal tersebut mengemuka dalam Sosialisasi Pembangunan Karakter Angkatan Kerja yang digelar di Pendopo Migunani, Umbulharjo, Yogyakarta.
Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Muhammad Syafi'i, menjelaskan bahwa watak Satriya telah tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) DIY No. 72/2008.
"Satriya dimaknai sebagai watak ksatria, yang mencerminkan sikap memegang teguh ajaran moral seperti sawiji (konsentrasi), greget (semangat), sengguh (percaya diri), dan ora mingkuh (pantang menyerah), serta semangat golong gilig yang berarti persatuan," jelas politisi PKS DIY ini.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa SATRIYA juga merupakan akronim dari Selaras, Akal Budi Luhur-Jati Diri, Teladan-Keteladanan, Rela Melayani, Inovatif, Yakin dan Percaya Diri, serta Ahli-Profesional.
"Jika karakter ini dimiliki oleh warga Jogja, maka akan menjadi modal kuat menuju tatanan kehidupan yang selaras dan harmoni," tambahnya.
Sosialisasi ini difasilitasi oleh Muhammad Syafi'i bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DIY. Turut hadir sebagai narasumber, Dosen UPN Veteran Astuti Rahayu dan Sri Wahyuningsih dari BNN Provinsi DIY. Kegiatan ini diikuti oleh para pemuda dan pemudi dari Kota Yogyakarta.
