PKS DIY menggelar FGD ketahanan energi di Yogyakarta. Membahas solusi krisis pangan & ekonomi lewat PLTS mandiri dan pengolahan minyak jelantah.
YOGYAKARTA – Isu krisis energi dan perubahan iklim sering kali dianggap sebagai pembahasan yang jauh dari jangkauan masyarakat, padahal dampaknya sangat nyata dan langsung memengaruhi stabilitas harga pangan serta pengeluaran harian kita. Saat harga bahan bakar minyak tidak stabil, biaya logistik otomatis melonjak, dan berujung pada naiknya harga komoditas pokok seperti beras serta cabai di pasar.
Merespons tantangan krusial tersebut, Bidang Energi, Lingkungan Hidup, dan Perubahan Iklim (BELPHI) DPW PKS DIY menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Membangun Ketahanan Energi dalam Mengatasi Krisis Pangan dan Ekonomi Menuju Energi Terbarukan demi Melestarikan Lingkungan". Acara ini berlangsung di Kantor DPTW PKS DIY, Yogyakarta, pada Minggu (7/6/2026).
Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Ketua BELPHI DPW PKS DIY, Agung Laksmono, S.Si., M.Sc., M.Ling.; praktisi pertanian terpadu, Agus Wibawa; serta Ketua DPW PKS DIY sekaligus akademisi teknik kimia, Budi Wiyarno, S.T., M.Eng.
Dalam pemaparannya, Agung Laksmono memperkenalkan BELPHI sebagai bidang baru di struktural PKS yang fokus pada isu krisis iklim dan kelestarian lingkungan. Ia menyoroti pentingnya kolaborasi multi-sektor dalam menyelesaikan masalah lingkungan di DIY, seperti darurat pengelolaan sampah pasca-penutupan TPA Piyungan.
"Persoalan lingkungan adalah isu jangka panjang yang membutuhkan kesadaran bersama. Melalui bidang baru ini, kami ingin merumuskan kebijakan pembangunan yang berwawasan lingkungan agar hak masyarakat mendapatkan lingkungan yang sehat dapat terpenuhi," ujar Agung.
Sesi kedua diperkaya oleh pengalaman praktis dari Agus Wibawa, pendiri Taman Edukasi Kahyangan di Sentolo, Kulon Progo. Sejak tahun 2019, ia telah menerapkan konsep pertanian terpadu yang seluruh kebutuhan energinya dipasok oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mandiri, termasuk untuk mobilitas kendaraan listriknya sehari-hari.
Agus membeberkan bahwa investasi PLTS skala kecil sangat layak dan menguntungkan jika diintegrasikan dengan lini usaha produktif (ekonomi hijau) di pedesaan, seperti mesin tetas telur bertenaga surya dan aerator kolam ikan bioflok. "Matahari di Indonesia adalah anugerah sepanjang tahun. Dengan mendesain sistem PLTS yang berkualitas dan bergaransi, pelaku usaha mikro dapat mandiri energi sekaligus memangkas biaya operasional secara signifikan," jelas Agus.
Melengkapi diskusi, Ketua DPW PKS DIY Budi Wiyarno mengupas potensi energi terbarukan dari sisi sains dan teknologi, khususnya pemanfaatan minyak jelantah dan mikroalga (spirulina). Penulis buku Biodiesel Microalgae ini menjelaskan bahwa mikroalga sangat prospektif dikembangkan sebagai pangan fungsional (superfood) dan pakan ternak karena siklus panennya yang cepat.
Ia juga menawarkan solusi konkret untuk mengatasi kendala tingginya investasi awal PLTS bagi masyarakat melalui pembentukan ekosistem keuangan mikro. "Kita perlu merancang skema pembiayaan hijau berbasis syariah agar masyarakat bisa menyicil pemasangan instalasi PLTS. Dengan begitu, transisi energi dan penguatan ekonomi rakyat dapat berjalan seiring sejalan tanpa harus saling mengorbankan," pungkas Budi.
Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif bersama perwakilan mahasiswa dan pegiat lingkungan yang hadir, serta pembagian buku gratis "Biodiesel Microalagae" karya Ketua DPW PKS DIY Budi Wiyarno untuk para peserta.
