Keseruan Latansa PKS DIY di Lembah Merapi: membekali perempuan dengan materi kebugaran, bela diri praktis, P3K, hingga makna hidup sebagai Latansa.
“Perempuan adalah tulang punggung para laki-laki…”
Pernyataan dari Ketua DPW PKS DIY, Budi Wiyarno, S.T., M.Eng., ini seketika memicu interaksi hangat dari ratusan peserta Pelatihan Perempuan Siaga (Latansa) PKS DIY pada 25 Juli 2026 di Bumi Perkemahan Lembah Merapi.
“Perempuan itu tulang rusuk, Ustadz!” seru beberapa peserta menyela dengan nada bercanda.
Sambil tersenyum, Budi Wiyarno segera melanjutkan kelakar tersebut, “Perempuan itu tulang punggung, bagi laki-laki yang suka tulang-tulung (suka minta tolong).” Tawa pun pecah di tengah lapangan, mencairkan suasana pagi yang cukup dingin.
Apel pembukaan Latansa berlangsung hangat setelah sebelumnya diawali dengan senam bersama. Aktivitas fisik ini cukup membantu membangkitkan semangat para peserta dan panitia yang harus berjuang melawan hawa dingin pegunungan, yang kabarnya sempat menyentuh angka 11 derajat Celsius pada malam hari.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi latihan baris-berbaris (PBB) dasar. Di sela-sela barisan, terdengar obrolan ringan khas ibu-ibu.
“Eh, untuk apa kita diajari baris-berbaris? Mau melatih siapa nanti?” tanya salah seorang peserta dengan heran.
“Hus, untuk persiapan upacara 17 Agustus nanti, Mak,” timpal peserta lain yang disambut senyum tipis rekan di sebelahnya.
Setelah sesi PBB, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok di area lapangan yang berbeda untuk menerima materi praktis: Kebugaran, Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), dan dasar-dasar bela diri.
Kebugaran untuk Kelancaran Dakwah
Materi kebugaran menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik bagi kader perempuan yang memiliki aktivitas padat. Kesehatan prima menjadi modal utama agar aktivitas kemasyarakatan dan dakwah dapat berjalan lancar.
Instruktur kebugaran berpesan agar olahraga dilakukan sesuai kemampuan tubuh. “Jaga kebugaran semampunya. Kalau gerakan squat belum bisa ideal, silakan bantu dengan alat bantu seperti kursi. Begitu juga dengan plank, sit-up, atau push-up. Mulailah dari posisi yang paling memungkinkan agar terhindar dari cedera,” jelasnya.
Dasar-Dasar Bela Diri dan Kewaspadaan
Pada sesi bela diri, pemateri menekankan pentingnya membekali diri dengan kemampuan pertahanan dasar. Meskipun persentase ancaman kejahatan atau pelecehan di ruang publik tidak menentu, kaum perempuan tetap perlu memiliki kesiapan.
Peserta diajarkan konsep Proactive Avoidance, yaitu upaya pencegahan seperti menghindari jalanan sepi atau tidak mengenakan perhiasan secara mencolok. Selain itu, ada pula konsep Security Awareness (kesadaran keamanan), termasuk edukasi bagi anak-anak mengenai batasan anggota tubuh yang boleh disentuh orang lain serta penolakan terhadap pemberian dari orang asing.
Tak kalah penting, peserta dilatih melakukan pertahanan verbal dengan kalimat tegas untuk menarik perhatian sekitar jika berada dalam kondisi terancam, di samping gerakan fisik praktis untuk melepaskan diri dari cengkeraman lawan.
Keterampilan P3K dan Outbound
Pada materi P3K, peserta mendapatkan panduan melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) untuk penanganan awal henti napas dan henti jantung, serta teknik pertolongan pertama pada kecelakaan sebelum tim medis tiba.
Setelah jeda salat dan makan siang, keseruan berlanjut pada sesi outbound. Terdiri dari tujuh pos halang rintang, permainan kelompok ini menguji tingkat kesabaran, konsentrasi, dan kekompakan para peserta.
Latansa: Lahan Tanam Amalan Shalihah
Rangkaian acara ditutup dengan apel penutupan sekitar pukul 16.00 WIB. Bertindak selaku pembina apel, Bendahara DPW PKS DIY, Sofyan Setyo Darmawan, S.T., M.Eng. memberikan pesan penutup yang dikemas lewat sebait lagu:
Syukuri apa yang ada
Hidup adalah Latansa
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik
Di penghujung acara, para peserta diminta menutup mata dan berjalan bersama kelompoknya untuk mencari slayer Latansa. Penyematan slayer secara simbolis menandai berakhirnya kegiatan hari itu.
Selamat kembali ke rumah masing-masing dan melanjutkan pengabdian di tengah masyarakat. Karena sejatinya hidup adalah “Latansa”, lahan tanam amalan shalihah.
Narasumber: Ery Krisdwiyanti
Foto: Mas Isna