Karakter istimewa pemuda Jogja dinilai luntur. Minat ikut pelatihan kerja rendah, kalah saing dengan pemuda luar daerah. LPK didorong bangun karakter.
YOGYAKARTA – Karakter istimewa yang seharusnya menjadi keunggulan pemuda Yogyakarta kini dipertanyakan. Faktanya, minat mereka untuk mengikuti pelatihan kerja, terutama program magang ke luar negeri, sangat rendah dan kalah bersaing dengan pemuda dari luar daerah.
Kekhawatiran ini diungkapkan oleh Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Muhammad Syafi'i, dalam sosialisasi Angkatan Kerja Istimewa di Kantor Dinas Tenaga Kerja DIY, Selasa (16/9/2025).
"Dari kunjungan kami ke sejumlah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), terungkap fakta bahwa tidak banyak warga Jogja yang mau ikut pelatihan. Untuk magang ke luar negeri, pesertanya hanya 1 persen pemuda Jogja, sisanya justru dari luar daerah," ungkap Syafi'i yang juga merupakan Sekretaris Fraksi PKS DPRD DIY.
Padahal, menurutnya, karakter "wong Jogja" yang tertuang dalam filosofi Satria—yaitu sawiji, greget, sengguh, ora mingguh (satu visi, semangat, percaya diri, pantang menyerah)—seharusnya menjadi modal utama untuk unggul di bidang apa pun.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Pembinaan dan Pelatihan Disnakertrans DIY, Tunggul Bomoaji, menyatakan bahwa LPK akan didorong untuk menjadi sarana membangun kembali karakter tersebut.
"Kami berharap para pengelola LPK dapat memasukkan materi pembangunan karakter wong Jogja ini dalam proses pelatihan yang diberikan," jelas Tunggul.
Keduanya sepakat, penguatan karakter yang didasari budaya luhur ini sangat penting untuk membentuk angkatan kerja istimewa yang siap bersaing di dunia kerja global.

