Cerita kocak dan haru emak-emak PKS DIY yang gagal move on dari Latansa. Simak ukhuwah seru tanpa alasan jarak, usia, hingga urusan popok bayi!
Oleh: Lia Ismuninggar (Peserta Latansa)
Masih adakah Latansa di hatimu?
Seperti yang lalu-lalu, rasanya tetap saja gagal move on dari kerennya Latansa. Mari mengawali hari dengan hati yang masih "terlatansa-latansa".
Bestie-bestie dari regu Salak, Pepaya, Semangka, Kesemek, dan aneka buah-buahan lainnya se-Indonesia, merasa seperti ini juga tidak, best?
Kakak-kakak, bestie-bestie, masih ingat Latansa? Tak jelaskan sedikit ya disclaimer-nya. Ini versi pribadi, kalau ada yang salah dimaafkan ya.
Gini, best... Latansa itu kepanjangan dari Pelatihan Perempuan Siaga. Sebuah program istimewa yang diselenggarakan khusus untuk anggota perempuan PKS dengan tujuan menempa diri agar menjadi bugar, siap, dan tangguh, sehingga siap memberikan peran terbaik untuk masyarakat, bangsa, dan negara. Dowo men...
Kalau Latansa periode lalu kami dikelompokkan menggunakan nama-nama suku bangsa di Indonesia, pada Sabtu dan Ahad kemarin seluruh peserta dikelompokkan memakai nama buah-buahan. Dan kami sepakat menamai kelompok baru kami—yang beranggotakan 15 orang hasil acakan game—dengan nama Regu Salak.
Nama ini dipilih untuk mengingatkan kembali pada ikon buah khas lokasi Latansa tahun ini, yaitu di Sidorejo, Nganggring, Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalau kami Tim Salak, kamu dari tim apa, bestie?
Lanjut... Kalau Latansa kemarin kami menyepakati panggilan "kakak-kakak", tahun ini seolah lupa kalau umur sudah bertambah 4 tahun dari Latansa sebelumnya. Kakak-kakak peserta di tahun 2022 ini malah ngelunjak minta dipanggil "bestie-bestie".
Ya Allah, memang tidak meleset unen-unen yang sedang hit itu: "Menua adalah takdir raga, tapi merasa terus muda adalah pilihan kita." Mbok sing eling, Mak...
Umur memang tidak lagi remaja, tidak lagi muda. Nah, berarti sudah tua? Tidak dong! Emak-emak PKS yang tadi minta disepakati untuk disapa "bestie" ini sepakat menciptakan level generasi baru, yaitu generasi Mahmud Abbas (mamah muda anak baru satu).
Ciri-cirinya:
- Menganggap generasi Z adalah adiknya.
- Merasa terjadi tragedi saat menyadari sudah mulai dipanggil "uti".
- "Secara fisik umur 40 up, secara jiwa masih 21, secara sendi dan tulang sudah 60."
- Sangat bahagia saat cek kolesterol, asam urat, dan gula darahnya normal.
- Kalau mendengar lagu Peterpan, Rossa, Dewa 19, atau bahkan Tenda Biru-nya Teh Desy Ratnasari, otomatis langsung umak-umik bersenandung. Duh!
- Tambahkan sendiri nggih, best...
Dirimu begini tidak, best? (Semoga instruktur ter-jos-jis, Komandan Septi, ikhlas dan tidak terpaksa memanggil kami "bestie" kemarin, ya).
Menurutmu, apa yang bakal dilakukan emak-emak bugar, sigap, dan tangguh ini kalau diseru untuk hadir Latansa? Sambut seruan, dan... DATANG!!!
Punya bayi? Tenang, di sini saya saksikan sendiri ibu-ibu tetap mengikuti kegiatan Latansa dengan tetap meng-ASI-hi bayinya dengan penuh semangat dan bahagia.
Bawa anak? Eh, di Latansa, anak-anak dijaga dengan baik oleh para ayah yang dengan sukarela mendampingi istri tercinta seharian. Ada pula yang ikut di lokasi dengan mendirikan tenda lengkap dengan bekal yang sudah disiapkan ibunya sebelum berangkat.
Rewel? No! Di sini, sementara ibu-ibu berkegiatan, ada bapak-bapak Korsad dan Kepanduan yang full mengawasi dan momong. Terima kasih, bapak-bapak!
Sakit? Di Latansa, ada seorang ibu berusia mungkin 60 tahun lebih yang duduk di barisan paling belakang tanpa meninggalkan lapangan sedikit pun. Mulai dari sesi senam, PBB, hingga berbagai game, beliau mengikuti setiap sesi walau dengan duduk di atas portable chair. Aku padamu, Ibu!
Jauh? Jadi gini, Neng... Latansa ini menghadirkan ibu-ibu dari seluruh 5 kabupaten/kota di DIY. Dalam dua hari kemarin, ribuan anggota perempuan PKS telah 'membakar' Lembah Merapi dengan dress code oranye dan jilbab bergambar Tugu Yogyakarta. Keren, kan?
Peserta dari Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul, Sleman, dan Kota Yogyakarta hilir-mudik berdatangan menuju lokasi dengan berbagai moda transportasi darat. Ada yang motoran, naik bus besar, atau pakai minibus. Ada yang diantar dan ditungguin suami, ditungguin anak, bahkan ditungguin cucunya. Hayo, uti siapa ini?
Oh ya, kami para peserta diwajibkan hadir jam 6 tepat di lokasi. Luar biasanya, ada peserta yang sudah hadir jam 4.30! Dengar-dengar, rombongannya berangkat dari rumah jam 3 pagi. Habis qiyamulail (salat malam), langsung budal! Kebayang, kan, bagaimana perjuangan seorang ibu yang akan meninggalkan rumah, suami, dan anak-anaknya seharian? Harus menyiapkan masakan, camilan, mengatur jadwal anak-anak, belum lagi semalaman harus charge HP dan power bank sampai 100% supaya tetap terhubung dengan rumah di sela-sela istirahat.
Kamukah, Mak, yang kemarin hadir terpagi menembus bekunya hawa Turi? Regu berapa dan dari mana?
Jam kepagian sudah bukan alasan. Lokasi Latansa di Turi ini membentangkan jarak kurang lebih 60 km ke Kulon Progo, 60 km ke Gunungkidul, dan 50 km ke Bantul. (Ini diukur ChatGPT dari alun-alun masing-masing kabupaten ya, Kak. Kalau rumah sendiri masih ndlesep jauh dari alun-alun, ya tambah jauh lagi).
Tim Sleman dan Kota Yogya, kibar slayer penuh hormat, Kak!
Oh ya, tambahannya, seluruh peserta Latansa ini sudah mengikuti cek kebugaran dan serangkaian syiar (aktivitas) kebugaran sejak dua bulan sebelum acara dilaksanakan. Btw, lingkar perutmu berapa, bestie?
Mau tidak percaya, tapi ini emak-emak P-K-S!
Opo maneh alesanmu jal? Dingin? Jaketan! Jangan khawatir, acara pertama dari Latansa ini adalah senam bersama instruktur-instruktur perempuan dari Komunitas Senam Nusantara (KSN). Dijamin langsung sumuk!
Apalagi kemarin rangkaian senam ditutup dengan senam kreasi berlatar lagu wong Jogja dari Ndarboy Genk, "Koyo Jogja Istimewa".
Kowe siji-sijine... aku bangga karo kowe... gelem nompo opo anane... tresnoku ra bakal mletre... Kowe ojooo sumelang... Lanjutkan sendiri, Mak! Tak kasih mik nih! 🎤
Apalagi, bestie, alasannya?
- Pemalu? Tenang, buat yang pemalu atau takut debu, boleh pakai masker.
- Menderita sakit tertentu? Kasih tanda pita biru. Di lokasi ada dua ambulans dan tim medis PKS yang siap siaga menjaga kita. Dokter Sari dan seluruh Tim Medis PKS, kami padamu!
- Udah tua? Di sini, mulai dari yang muda imut sampai yang tua lebih dari 60 tahun, ada semua!
- Terlalu muda? Di sini banyak yang usia 20-an, Kak.
- Nggak punya dress code? Haaish, alasan saja!
Untuk teman-teman regu Pepaya, Mangga, Pisang, Jambu, dan semuanya, terima kasih atas ukhuwah dan kehangatannya. Btw, bekalmu kemarin apa, best? (Terima kasih Umi Ani untuk jus jambu, air kunir asem, dan kurmanya, ya!)
Dan teruntuk kakak-kakak panitia, terima kasih atas Latansa yang full ceria dan bahagia ini. Semoga Allah memberikan kesehatan, kebahagiaan, dan keceriaan selalu kepada kakak-kakak panitia semuanya.
Dan terakhir, ibarat kata... Koyo kuthoku Jogja, PKS cen istimewa!
.jpeg)
.jpeg)
